Semangat Kebersamaan di Pasar Grabag

LOGO SPR 1 fix - Copy

Semangat Kebersamaan di Pasar Grabag

ditulis oleh Khilda Maulidiah

Hari ini, sesuai kesepakatan kami mengadakan pertemuan dengan para pedagang Pasar Grabag. Tidak seperti biasanya, hanya Khilda, Rian dan Anto. Bukan karena kami bagian dari komite saja, tapi kerinduan menginjakkan kaki di Pasar Grabag setelah beberapa pekan tidak kesana. Perjalanan dengan kendaraan roda dua dan menikmati sarapan “sego abang lombok ijo” menjadi berbeda…

Malam sebelumnya, kami meminjam motor matic Heri karena harus membawa selusin botol sirup secang pesanan Bu Pangat. (Terima kasih, sudah membantu kami mas Heri). Persiapan bahan diskusi apa saja yang akan kita bawa setelah di Pasar Grabag. Sesuai hasil rapat divisi pendidikan, kita akan benar-benar menguatkan kelembagaan koperasi yang disiapkan para pedagang Pasar Grabag dan agenda tetap sesuai kebutuhan mereka selama setahun ini.

Kami bertiga berangkat dari “istana” Pustek menuju Pasar Grabag pukul 8.25. Suasana jalan masih cukup lengang dan belum terlalu panas. Menyisiri Jalan Wates kami menemukan sebuah warung bertuliskan “sego abang lombok ijo” yang menggoda perut kami. Kami memesan menu nasi merah, gule jamu, tongseng belut, tak lupa tahu dan tempe andalan. Segelas kopi panas, es jeruk dan wedang uwuh yang jarang kami temui menghangatkan pagi ini.

Kami melanjutkan perjalanan setelah menikmati sarapan yang nikmat di pinggir sawah dengan harga yang murah meriah J. Kami memiih jalan berbeda dari biasanya juga, mencari jalan yang lebih “aman” untuk selusin botol sirup secang. Ya, jalanan memasuki wilayah Purworejo Jawa Tengah memang “kurang bersahabat”. Jalan yang kami susuri berbelok di daerah Pasar Krendetan, sepanjang jalan hingga Pasar Grabag kami membelah hamparan sawah yang sedang masa tanam. Dihiasi deretan gunung dan birunya langit. Teringat masa kecil bermain di pematang sawah, “entah bagaimana dengan anak sekarang yang jarang bermain di alam??”.

Sesampainya di Pasar Grabag, kami langsung ke kios Bu Pangat untuk menyerahkan sirup secang pesanannya. Sekaligus menyapa dan bertukar kabar. Dan kami pun menitipkan beberapa surat undangan untuk acara bedah buku Sekolah Pasar pada tanggal 19 April mendatang. Setelah itu, seperti biasa kami menyapa beberapa pedagang yang kami lewati hingga kios kuliner Bu Jini. Menikmati segelas es dan gorengan begitu segar di tengah gerahnya siang ini.

Kemudian kami menunggu beberapa pedagang berkumpul di tengah pasar, tempat yang biasa kita gunakan sebagai kelas selama ini. tidak banyak yang hadir memang, karena hari ini bertepatan dengan pemilihan kepala desa dan acara lain. Kami duduk di tikar sambil berbincang mengenai koperasi Pasar Grabag yang ternyata belum nyata bergerak.

Pembicaraan dibuka oleh Rian, kemudian Khilda mengantarkan poin pembuka diskusi.

Hasilnya kami menentukan tanggal 25 April 2013 sebagai pertemuan selanjutnya dengan agenda pertemuan seluruh pedagang pasar Grabag yang bersedia menjadi anggota koperasi. Juga membahas pengurus koperasi, kesepakatan terkait dengan sumbangan anggota dan pertemuan kelas yang diharapkan dari mahasiswa Purworejo sebagai pemateri.

Sebuah perkembangan yang luar biasa, pedagang Pasar Grabag siap memandirikan diri. Sehingga ketergantungan terhadap Sekolah Pasar dapat diminimalisir. Prinsip dari pedagang, untuk pedagang dan oleh pedagang mulai terasa. Segala keputusan membawa kepentingan bersama demi kemajuan pasarnya.

Kami menutup acara dengan kelegaan dengan keputusan yang saling menguntungkan semua pihak, dinas pengelolaan pasar, paguyuban pasar, pengurus pedagang Sekolah Pasar dan terutama semua pegiat Pasar Grabag. Kami tim Sekolah Pasar hanya berwenang sebagai fasilitator yang menjembatani kebutuhan pegiat Pasar Grabag.

Selesai acara kami sholat di musola pasar yang “cukup kecil dan panas”. Lalu kami kembali disuguhkan secangkir kopi putih dan camilan di kios Bu Jini oleh Bu Leyeh. Dan seperti biasanya, kami selalu membawa buah tangan dari mereka. Manis sekali :)

Tepat pukul 13.15 kami meluncur kembali ke Yogyakarta, menyusuri jalan yang membelah persawahan yang eksotis. “Betapa kaya alam Indonesia, indah..”. Kami segera pulang karena mengejar kuliah pukul 15.00 dan lagipula Rian dan Anto keadaan mengantuk berat karena tidak tidur semalam. “Huh.. sudah tahu perjalanan jauh, tidak menjaga badan”.

“Dan lembaran baru pasar Grabag akan terbingkai dengan semangat kebersamaan membangun”.

Terima kasih telah mengindahkan hari ini…

 

Pasar Grabag, 10 April 2013
Khilda Maulidiah