Sekolah Pasar Kranggan Periode II Dimulai

Tribun Jogja – Senin, 10 September 2012 14:42 WIB

Laporan Reporter Tribun Jogja, Theresia Andayani

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Kondisi pasar yang memprihatinkan dewasa ini selain akibat dominasi pasar modern adalah juga karena berbagai belenggu yang menjerat para pedagang pasar. Di saat mencari modal mereka membayar bunga tinggi. Di waktu kulakan barang mereka menerima harga mahal. Dan di kala menjual dagangan mereka tak mampu mendapatkan untung wajar karena daya beli masyarakat bawah yang kurang.

Direktur Sekolah Pasar Awan Santosa, S.E, M.Sc mengatakan keadaan ini tidak lepas dari keyakinan bahwa untung akan naik ketika aset jualan ditingkatkan. Pun sekira tak cukup modal maka solusinya adalah pelepas uang, baik formal maupun informal. Dipercaya pula bahwa rejeki itu datangnya dari selera pasar, maka solusinya adalah menjual produk pabrikan.

“Pasar pun terbelenggu sistem kapitalis ribawi, yang bukan hanya berupa bunga mencekik melainkan juga dominasi tengkulak (distributor). Rejeki yang seharusnya diperoleh hasil perasan keringat pedagang pasar justru banyak yang mengalir ke para pemburu rente dan pemodal besar, yang berkantor di ruangan sejuk ber-AC dengan seragam menarik pandangan,” ujar Awan saat melakukan pembukaan Sekolah Pasar Kranggan Periode II, Senin (10/9/2012).

Jelas bahwa pasar harus dibebaskan dari belenggu struktural. Dan belenggu tersebut bisa dihancurkan dengan implementasi tauhid ekonomi melalui persatuan rakyat di pasar.

Maka, Awan ini menyerukan untuk digerakkan revitalisasi koperasi sejati di pasar-pasar Indonesia, dengan cara membuka keanggotaan seluas-luasnya koperasi pasar kepada lebih banyak pedagang, buruh gendong, tukang becak, tukang parkir, dan rumah tangga konsumen pasar tradisional. “Kami ingin melakukan regenerasi kepengurusan agar koperasi pasar dapat dikelola secara lebih adil dan demokratis, melibatkan kader-kader muda potensial,” ucapnya.

Selanjutnya, ia ingin menyelenggarakan pendidikan anggota koperasi pasar, secara sistematis berkelanjutan, di antaranya dengan merintis pendirian Sekolah Pasar di pasar-pasar. Keempat; Menjadikan koperasi pasar sebagai pusat kulakan produk lokal (desa) bagi para pedagang, sehingga dapat memutus ketergantungan terhadap tengkulak dan rentenir, memurahkan harga bagi konsumen, dan dapat menjadi rintisan Pasar Mandiri.

“Membangun jaringan antarkoperasi pasar dan antara koperasi pasar dengan koperasi tani dan koperasi buruh di seluruh Indonesia, di antaranya dengan perintisan Bursa Koperasi Pasar,” ucapnya.

Sebagai proses menuju ke arah tersebut, maka perlu melibatkan koperasi dalam pengelolaan dan alokasi retribusi dan berbagai sarana dan properti pasar. (*)

http://jogja.tribunnews.com/2012/09/10/sekolah-pasar-kranggan-periode-ii-dimulai