Sekolah Pasar Kranggan: Cerita dari Perjalanan Periode I

Oleh Istianto Ari Wibowo

Awal Cerita

Lebih dari 13 ribu pasar dengan sekitar 13 juta pedagang yang menggantungkan hidup. Itulah pasar tradisional (pasar rakyat). Jumlah yang hanya bisa “dikalahkan” oleh sektor pertanian. Pada sektor pertanian telah banyak yang turun melakukan penguatan. Namun, selain pemerintah sepertinya masih sedikit yang melirik pasar rakyat. Padahal, sekali lagi, sektor ini adalah sektor terbesar kedua setelah pertanian dalam perekonomian Indonesia. Potensi yang teramat besar dan seiring dengannya tentu memiliki permasalahan yang sangat pelik.Demikianlah, sehingga Sekolah Pasar memberanikan diri, menanggalkan berbagai atribut dari berbagai latar belakang, untuk turun memberi sedikit sumbangsih dalam penguatan pasar rakyat. Ijinkan kami untuk bercerita.

Bulan Desember 2011, hanya dengan bekal keberanian bahkan cenderung nekad, kami melakukan rekruitmen terbuka bagi siapapun yang ingin bergabung. Tak disangka tak dinyana, sekitar 50 orang bersedia mendedikasikan sebagian energi, waktu, dan ilmu. Hampir semuanya adalah mahasiswa, para intelektual muda dengan beragam disiplin ilmu dan berasal dari berbagai kampus. Siapa bilang anak muda tidak peduli pada pasar rakyat!

Setelah itu kami selama sebulan menggodok program dan rencana kerja. Kelas Pasar, program pertemuan rutin dwi mingguan yang bersifat klasikal dan diskusi. Klinik Pasar, program pendampingan untuk pedagang dan koperasi. Pendidikan Konsumen, program kampanye kepada masyarakat luas agar tidak meninggalkan pasar rakyat, pasarnya sendiri. Itulah tiga program utama kami. Selain berbagai program untuk penguatan internal di Sekolah Pasar.

Bulan Januari 2012, adalah bulan assessment. Dengan sumber daya yang terbatas Sekolah Pasar hanya mampu melakukan pendampingan di satu pasar. Akhirnya, setelah diskusi dengan berbagai pihak maka diputuskanlah bahwa Pasar Kranggan akan menjadi lokasi pendampingan. Pasar Kranggan terletak di dekat tugu yang menjadi simbol budaya dari Kota Budaya Yogyakarta. Pasar Kranggan juga tak jauh dari perguruan tinggi, simbol pendidikan dari Kota Pendidikan Yogyakarta. Tapi lihatlah kondisi Pasar Kranggan. Inilah pertimbangan utama memilih Pasar Kranggan.

Pada bulan ini juga dilakukan wawancara dan diskusi dengan pedagang dan koperasi di Pasar Kranggan untuk mengetahui potensi, permasalahan, dan tanggapan atas rencana Sekolah Pasar. Upaya penggalian juga dilakukan melalui diskusi terbuka dengan mengundang berbagai pihak yang terkait dengan pasar rakyat. Kurikulum pendampingan menjadi hasil dari assessment. Hasil penting yang lain adalah terbentuknya pengurus Sekolah Pasar di Pasar Kranggan. Mbak Imas (pedagang pakaian) sebagai kepala sekolah, Mbak Esti (pedagang pakaian) sebagai bendahara, dan Bu Partini (pengurus Koppas RAS Kranggan) sebagai sekretaris. Pedagang, pemerintah daerah (khususnya Dinas Pengelola Pasar Kota Yogyakarta), dan Koppas Kranggan menyambut baik rencana Sekolah Pasar. Cinta kami tak bertepuk sebelah tangan.

Bulan Februari 2012 tanggal 14, pecahlah kendi yang menjadi tanda pembukaan Sekolah Pasar Kranggan. Pedagang, petani, mahasiswa, akademisi, LOS DIY, LSM, Dinas Pengelolaan Kota Yogyakarta, pengusaha, pers, dan berbagai elemen lain menghadiri acara ini. Sekitar 100 orang membuat lantai 2 Pasar Kranggan yang biasanya sunyi menjadi riuh.

Kelas Pasar

Kelas Pasar dilaksanakan dengan metode klasikal, dikusi, dan praktek. Setiap Selasa minggu kedua dan keempat adalah waktu bagi pedagang peserta kelas untuk berbagi bersama pemantik diskusi dan tim Sekolah Pasar. Sampai saat ini telah dilaksanakan 12 kali pertemuan kelas pasar dengan menghadirkan pemantik diskusi yang berasal dari beragam latar belakang.

Pertemuan pertama sekaligus sebagai pembuka Sekolah Pasar diisi oleh Pak Herry Zudianto (mantan Walikota Yogyakarta) yang menyampaikan materi pentingnya peran pasar tradisional dalam perekonomian Indonesia. Pertemuan ini juga menjadi arena curhat dari para pedagang, khususnya di Pasar Kranggan mengenai kondisi pasar tradisional yang semakin memprihatinkan. Pertemuan kedua diisi oleh Mas Awan Santosa (Direktur Sekolah Pasar) dengan materi kewirausahaan. Pertemuan ketiga diisi oleh Pak Rajendra (pengusaha) dengan materi pencatatan barang dan keuangan. Pertemuan keempat diisi oleh Bu Rina Dwiarti (Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Mercu Buana Yogyakarta) dengan materi penataan barang dan layout kios. Pertemuan kelima diisi oleh Mas Adit Vidiantara dan Mbak Ellya Kumalasari (Relawan Sekolah Pasar) dengan materi pelayanan konsumen. Pertemuan keenam diisi oleh Kang Istianto Ari Wibowo (Ketua Divisi Pendidikan Sekolah Pasar) dengan materi koperasi pasar dan pasar tradisional. Pertemuan ketujuh diisi oleh Pak Puthut Indroyono (Ketua Divisi Dana Usaha Sekolah Pasar) dengan materi kerja sama pedagang pasar. Pertemuan kedelapan diisi oleh Pak Puthut Indroyono (Ketua Divisi Dana Usaha Sekolah Pasar) dengan materi kerja sama pembelian dan penjualan. Pertemuan kesembilan diisi oleh Bu Isnaini (pengusaha) dengan materi pengembangan usaha. Pertemuan kesepuluh diisi oleh Mas Awan Santosa (Direktur Sekolah Pasar) dengan materi keanggotaan koperasi pasar. Pertemuan kesebelas diisi oleh Bu Isnaini (pengusaha) dengan materi kerjasama antar koperasi. Pertemuan keduabelas sekaligus menjadi penutup Periode I Sekolah Pasar Kranggan diisi oleh Pak Idham Samawi (mantan Bupati Bantul) dengan materi kebijakan pemerintah.

Dari dalam ruang kelas pasar ini jualah muncul berbagai gagasan untuk mengembangkan pedagang, pasar rakyat, dan koperasi pasar. Gagasan-gagasan ini akan coba direalisasikan pada Periode II Sekolah Pasar Kranggan. Karena sejatinya periode I ini menjadi bagian dari assessment panjang yang selalu kami lakukan.

Dan, ruang kelas kami juga istimewa yaitu, Mushola Pasar Kranggan.

Klinik Pasar untuk Pedagang

Hasil kajian dan assessment awal yang kami lakukan menunjukkan bahwa perlu dilakukan peningkatan terhadap aktivitas perdagangan dari pedagang pasar. Peningkatan tersebut antara lain dalam manajemen kios, layout kios, dan pelayanan konsumen. Sekolah Pasar menerjunkan para relawan untuk bersinggungan langsung dengan aktivitas pedagang di pasar. Relawan mengikuti proses berjualan sekaligus mengumpulkan informasi tentang kebutuhan pedagang untuk mengembangkan pasar.

Klinik Pasar untuk pedagang berjalan beberapa kali. Blak-blakan saja. Sebagian besar target belum terlaksana namun setidaknya kami menjadi lebih dekat secara personal dengan para pedagang. Jarak antara bakul pasar dengan akademisi sedikit demi sedikit mulai terkikis. Ini menjadi hasil yang baik dan menjadi target utama Sekolah Pasar yakni, mengenal dan mendapat kepercayaan dari pedagang.

Klinik Pasar untuk Koperasi Pasar

Koperasi Pasar Rukun Agawe Santosa memiliki badan hukum sejak tahun 1989, artinya telah resmi berdiri selama 23 tahun. Saat ini Koppas RAS memiliki anggota sebanyak 616 orang dengan omset lebih dari 1,5 miliar per tahun dan dua orang ibu, Bu Partini dan Bu Prapti, sebagai pengurus yang sehari-hari mengelola segala hal terkait kegiatan koperasi.

Kita akan disambut dengan senyum ramah dari pengurus koperasi ketika masuk ke ruangan koperasi. Kita juga langsung disuguhi deretan meja dan tumpukan buku-buku kecil. Buku-buku itu berfungsi sebagai media pencatat transaksi koperasi. Ratusan anggota dengan berbagai macam transaksi seperti pinjaman, angsuran harian, angsuran mingguan, angsuran bulanan, dan tabungan. Ratusan transaksi setiap hari. Ditambah lagi dengan keharusan menyusun laporan keuangan. Dan semua itu dilakukan dengan tulis tangan. Sungguh melelahkan dan menguras energi. 23 tahun berdiri tanpa merasakan sentuhan kecanggihan teknologi. Entah ada dimana orang-orang pintar di kota pendidikan ini.

Itulah yang menjadi salah satu dasar dari program klinik pasar untuk koperasi pasar. Sekolah Pasar menerjunkan relawannya untuk meringankan pekerjaan pengurus koperasi. Menggantikan sistem manual dengan sistem komputer. Klinik Pasar untuk koperasi pasar berjalan dengan pelan namun pasti. Ribuan data yang dibutuhkan telah dicicil untuk dimasukkan dalam program akuntansi koperasi. 23 tahun sistem manual yang dilaksanakan di Koppas RAS Kranggan menjelang menjadi sejarah.

Pendidikan Konsumen

Pasar bukanlah semata-mata tempat jual beli. Pasar merupakan bagian tak terpisahkan dalam sistem nilai dan budaya masyarakat. Itulah yang menjadi dasar bagi Sekolah Pasar untuk tetap mengumandangkan pasar rakyat. Berbagai cara telah ditempuh. Website serta media sosial seperti facebook dan twitter menjadi alat untuk mengampanyekan pasar. Silahkan kunjungi website kami. Silahkan bergabung dengan facebook kami. Silahkan follow twitter kami. Seminar dan diskusi berulang kali dilakukan. Aksi simpatik dengan tema Mawar untuk Pasar Rakyat juga dilakukan. Jangan kaget jika suatu saat Anda menemui relawan Sekolah Pasar sedang di jalanan membagikan bunga mawar dan buletin Sekolah Pasar. Siapapun boleh mencibir tapi kami tetap akan ngèyèl melakukan.

Akhir dan Awal Cerita Baru

Hal pertama yang terlintas dalam pikiran ketika menulis cerita ini adalah mengucapkan terima kasih. Terima kasih kami haturkan kepada para pemateri dalam kelas pasar yang telah bersedia meluangkan waktu dan berbagi ilmu meski tak mendapat bayaran. Terima kasih kepada para donatur dan sponsor. Terima kasih kepada Anda semua yang telah mendukung. Terima kasih untuk pedagang dan koperasi Pasar Kranggan. Maafkan kami jika belum mampu memenuhi harapan. Terima kasih untuk seluruh relawan Sekolah Pasar atas segala kerja keras. Dari awal tak dibayar sampai kini juga tak dibayar.

Enam bulan bisa dibilang lama namun juga bisa juga dikatakan sebentar. Banyak hal yang telah coba kami lakukan namun lebih banyak lagi yang belum dilakukan. Sekolah Pasar menyadari ada begitu banyak kelemahan dan kekurangan. Karena itulah, kami tetap dan terus mengharap dukungan dari semua pihak. Mudah-mudahan Sekolah Pasar dapat berjalan dengan lebih baik.

Lao Tze pernah bilang, perjalanan seribu li dimulai dengan langkah pertama. Sampai jumpa dalam Periode II Sekolah Pasar Kranggan..
Istianto Ari Wibowo, SE
Koordinator Divisi Pendidikan Sekolah Pasar, telp: 0817460200