Ramaikan Pasar Tradisional melalui Produk Perdesaan

Upaya mengembalikan kejayaan pasar tradisional tidak semudah membalikkan telapak tangan. Pengembangan pasar tradisional di tengah kepungan toko modern memerlukan strategi jitu. Hal itu diutarakan oleh Direktur Sekolah Pasar Tradisional Awan Santosa di Yogyakarta, baru-baru ini.

Awan Santosa berharap pengembangan pasar tradisional tetap beranjak dari esensi pasar tradisional itu sendiri, yakni produk-produk yang dihasilkan oleh desa di sekitar pasar tradisional tersebut berada.“Promo itu semestinya diselaraskan utk mem-branding pasar tradisional sebagai etalase ekonomi rakyat atau industri desa. Masyarakat didorong belanja di pasar tradisional dengan berbelanja buatan lokal. Itu yang perlu dikampanyekan. Jangan lepaskan pasar dari produk perdesaan,” tutur dia.

Tanpa dorongan berbelanja produk lokal, menurut Awan, program tersebut tak bernilai pendidikan konsumen. Program itu hanya memindahkan aktivitas belanja dari pasar modern ke pasar tradisional untuk produk yang berasal dari satu pabrik. Dia berpendapat tanpa keunikan produk tradisional yang merupakan produk-produk rumahan dan industri desa, pasar tradisonal hanya menunggu waktu untuk dikuasai para pemodal besar.

“Pasar Pagi dan Pasar Beringharjo lantai tiga itu contoh terbaik dari pasar tradisional. Hampir 100 persen produknya merupakan hasil dari desa sehingga menggerakkan perekonomian desa. Pasar Pagi dominan sayur, Pasar Beringharjo lantai 3 kerajinan rakyat,” kata Awan.

Sekarang ini, di kota-kota besar termasuk di Yogyakarta, para pemodal kecil seperti disingkirkan dari putaran ekonomi. Bagaimana tidak, minimarket dan supermarket terus tumbuh pesat, sementara kios-kios pinggir jalan yang berharga sewa murah kini berganti dengan ruko-ruko dua dan tiga lantai yang berharga sewa 50 juta rupiah ke atas per tahunnya.

Real Estate Indonesia (REI) DIY menilai pertumbuhan rumah toko atau ruko di DIY sudah oversupply. Kelebihan pembangunan setidaknya telah mencapai 30 persen dibandingkan tahun lalu. Akibat kelebihan itu, banyak ruko di DIY saat ini sulit laku, bahkan banyak yang mangkrak.

“Makanya harapannya ya di pasar tradisional karena ngontrak di pinggir jalan sudah makin sulit,” kata Nandi, salah satu pengurus paguyuban pedangan Pasar Klitikkan, Kuncen, Yogyakarta.

Nandi mengatakan merasa beruntung tinggal di Yogyakarta karena pasar tradisional masih bisa bertahan hidup. Pemerintah pun memberi dukungan penuh, seperti penggratisan biaya listrik di Pasar Klitikkan Kuncen untuk periode tiga tahun.

Perketat Perizinan

Untuk menekan pertumbuhan pasar modern, mulai pekan lalu, pengajuan izin pendirian supermarket di Kota Yogyakarta dihentikan sementara. Langkah itu diambil karena saat ini tengah disusun Peraturan Daerah (Perda) tentang Perpasaran Kota Yogyakarta.

“Mempertimbangkan panjangnya proses persetujuan izin pendirian supermarket yang harus dilakukan, lebih baik jika izin kembali dibuka setelah ada aturan yang jelas mengenai keberadaan toko modern di Yogyakarta,” jelas anggota Komisi B DPRD Kota Yogyakarta Bagus Sumbarja.

Penghentian sementara tersebut tidak terlepas dari keinginan sejumlah pihak membatasi keberadaan pasar modern di Kota Yogyakarta. YG/E-12

Berita di Koran Jakarta