Open Recruitment Sekolah Pasar More »

Open Recruitment Sekolah Pasar More »

Open Recruitment Sekolah Pasar More »

 

Membangun Koperasi Sejati

“Saya pernah aktif berdagang di dalam pasar selama sebelas tahun¸ kemudian karena kesibukan sebagai ibu rumah tangga membuat saya banting setir berdagang di luar pasar” merupakan kata-kata awal yang disampaikan Ibu Isnaini saat memberikan materi kelas ke-3 di Pasar Cokro Kembang. Ia membawakan materi tentang kewirakoperasian pada tanggal 3 Oktober 2012.

Sebelum memasuki pokok bahasan tentang koperasi, bu Is berusaha mengajak semua peserta untuk berkaca mengevaluasi diri masing-masing dalam berperilaku ekonomi. Ia mengingatkan prinsip kesederhanaan dalam beperilaku akan sangat menentukan kesuksesan dalam mengembangkan usaha/bisnis. “Bukankah agama kita selama ini telah mengajarkan kesederhanaan hidup?” tanya Bu Isnaini kepada para pedagang.

Banyak orang yang sering terjerat utang karena perilaku konsumtif, lebih-lebih kaum wanitanya. Karena perilakunya itulah yang sering menghancurkan usaha atau bisnis yang telah digeluti bertahun-tahun. Tidak hanya itu, bahkan karena perilaku konsumtiflah yang menyebabkan timbulnya perselisihan dalam keluarga.

Menurut Bu Is, perilaku konsumtif disebabkan oleh ketidakmampuan kita dalam memilah-milah mana “kebutuhan” dan “keinginan”. Yang sering terjadi keinginan mengalahkan kebutuhan. Ia memberikan contoh misalnya dalam hal pendidikan anak. “Banyak orang tua yang tidak serius dalam menyekolahkan anaknya, tapi mereka justru memiliki sepeda motor dua, padahal biaya menyekolahkan anak hampir sama dengan biaya angsuran untuk kredit dua motor”, ujar Bu Isnaini.

Pendidikan sering dianggap bukan lagi kebutuhan, padahal menyekolahkan anak juga merupakan investasi. “Berhati-hati dalam berperilaku ekonomi, Pak, Buk, karena yang akan menjatuhkan Kita dan membangkrutkan Kita adalah perilaku ekonomi yang salah”, Pesan Ibu Isnaini pada para pedagang. Memang, mengikuti keinginan tidak akan ada habisnya.

Berkoperasi Untuk Apa?

“Jangan pernah berfikir menjadi anggota koperasi untuk memenuhi semua keinginan Kita”, himbau Ibu empat anak ini. Menjadi anggota koperasi agar mendapat pinjaman uang bukanlah tujuan utamanya. Jika dikembalikan kepada makna sejati koperasi, koperasi merupakan suatu organisasi dimana berkumpulnya orang-orang yang memiliki visi misi yang sama untuk mencari solusi bersama atau jalan keluar dari suatu kesulitan. Koperasi janganlah dianggap sebagai suatu sumber pendanaan baru untuk memenuhi semua keinginan kita.

“Percuma saja menjadi anggota koperasi, kalau masih saja boros”, ujar Bu Isnaini. Koperasi yang dicita-citakan Bung Hatta adalah koperasi yang menciptakan kemakmuran yang adil dan merata untuk semua anggota. Maka dari itu ketika kita akan mendirikan koperasi harus diniatkan dari awal “rasa kebersamaan untuk mencari kemakmuran bersama”.

“Kita juga perlu berhati-hati, jangan sampai terjerat dalam lembaga keuangan yang mengaku sebagai koperasi tapi ternyata memberlakukan sistem bunga berbunga”. Saya mempunyai pengalaman buruk dengan lembaga keuangan, yang mengaku menggunakan prinsip syariah tapi nyatanya produk yang mereka tawarkan menyimpang dari prinsip-prinsip syariah” Ujar Bu Isnaini. Maka dari itu ia mengajak para pedagang pasar Cokrokembang untuk membangun koperasi sejati seperti yang dicita-citakan Bung Hatta. Prinsip dasar yang ia ditawarkan dalam membangun koperasi adalah “menghidari riba”.

Sifat riba timbul ketika dalam perjanjian simpan pinjam pihak koperasi/lembaga keuangan menetapkan kewajiban bagi peminjam untuk mengembalikan uang pokok plus “bunga”. Sekecil apa pun bunga itu tetap saja bunga, meminta pengembalian lebih dari pokok pinjaman sudah masuk dalam pengertian riba dan sering kali bunga ini memberatkan anggota/nasabah. Terdapat 2 produk yang diusulkan Bu Isnaini apabila Koperasi Pasar Cokrokembang benar-benar dibentuk adalah :

1. Mudharabah (kerjasama). Produk ini memungkinkan para anggota meminjam dana dari koperasi yang bertujuan untuk membiayai usaha. Bentuk kerjasama antara koperasi dan anggota tercermin dengan adanya bagi hasil yang diberikan peminjam kepada koperasi apabila usahnya mendapatkan keuntungan. Sistem

mudharabah tidak mengikat anggota untuk mengembalikan dana pinjaman dengan jumlah tertentu. Sebagai contoh, pak Mul meminjam uang kepada koperasi sebanyak Rp 1 juta untuk dipergunakan sebagai modal kulakan. Pada saat sudah jatuh tempo, pak Mul cukup mengembalikan pokok pinjaman ditambah dengan “bagi hasil” usahanya itu. Bu Is mengusulkan pembagian sebesar maksimum 60:40, 60% untuk pemilik usaha dan 40% untuk koperasi.

Bagaimana jika ternyata Pak Mul tidak dapat mengembalikan pinjaman karena merugi. Dalam kasus seperti itu, bagi koperasi yang baru berdiri tentu tidak sanggup menanggung kerugian. Oleh karena itu perlu diambil kebijaksanaan bahwa meskipun Pak Mul mengalami kerugian, tetapi tetap harus punya beban untuk mengembalikan pinjaman pokok.

2. Qardhul Hassan (pinjaman sosial). Qardhul hasan adalah pinjaman tanpa imbalan yang memungkinkan peminjam menggunakan dana tersebut selama jangka waktu tertentu dan mengembalikan dalam jumlah yang “sama” pada akhir periode yang disepakati. Namun apabila peminjam ingin mengembalikan dalam jumlah yang lebih akan dianggap sebagai infaq dan jumlahnya pun tidak ditentukan.

Karena bersifat pinjaman sosial dan diperuntukkan kepada anggota untuk keperluan non-usaha, maka Bu Is mengusulkan besarannya maksimum 20 persen. Sedangkan yang 80 persen diperuntukkan untuk dana kerjasama (mudharabah)

Pada bagian lain, Bu Is juga sempat menyinggung besaran uang simpanan pokok, simpanan wajib dan sukarela. Misalya simpanan pokok sebesar Rp 100.000 dan simpanan wajib Rp 10.000. “Yang penting besarannya jangan terlalu besar sehingga memberatkan anggota, atau mereka yang tertarik menjadi anggota”, pesannya.

Bu Is berharap agar koperasi yang ingin dikembangkan di pasar Cokrokembang dapat dipersiapkan segala sesuatunya agar benar-benar menjadi wahana untuk menyejahterakan seluruh anggota.

Abidah