[ETNOGRAFI] KUNJUNGAN KE PASAR COKRO KEMBANG KLATEN #2

IMG-20190301-WA0004

Pagi hari Minggu tanggal 10 februari 2019 anggota Sopas merencanakan untuk Srawung  ke Pasar Cokrokembangli. Pada pukul 09.30 WIB para anggota Sopas angkatan 2018 sudah berkumpul di PUSTEK Kerakyatan UGM untuk persiapan sebelum berangkat menuju Pasar Cokrokembang. Ada lima orang yang akan berangkat pada hari ini, yakni Zakki, Arfian, Erly, Ridwan, dan satu lagi Hanifah yang berasal dari Sekolah Tani.

Setelah waktu menunjukan pukul 10.11 anggota pun berangkat menuju Pasar Cokrokembang. Sekitar satu jam perjalan kami pun tiba di Pasar Cokrokembang pada pukul 11.26, disana kami melihat sudah setengah dari pedagang pasar mulai membereskan daganganya, karena sudah berkurangnya pembeli yang datang disiang hari. Akhirya kami pun langsung menuju ke pengurus Pasar Cokrokembang. Setelah saudara Zakki melihat ke ruangan pengurus ternyata sudah tidak ada orang disana. Kami meng-inisiasi untuk melanjutkan Srawung dengan pedagang. Srawung pertama kami menemui Mbak Hani selaku pedagang buah-buahan dipasar dan salah satu pengurus Koperasi Pasar Cokrokembang. Akan tetapi Mbak Hani sedang sibuk melayani pembeli, sehingga kami memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu sekalian kuliner pasar. Kami menikmati soto ayam di warung Bu Maryani. Sembari menunggu bu Maryani dalam membuat soto, sebagian anggota Sopas melihat-lihat keadaan pasar, dan ada juga yang mengobrol dengan Bu Maryani. Dari percakapan tersebut didapatkan beberapa data. Beberapa  diantaranya “ kondisi bangunan pasar banyak yang rusak (atap bocor sejak pasar direnovasi itu belum ada perbaikan lagi sampai sekarang) dan air sangat macet.

Setelah makan soto ditempat Bu Maryani, kami bergegas untuk kembali menemui Mbak Hani. Banyak keluhan yang lontarkan Mbak Hani kepada anggota Sopas, diantaranya tentang buku saku Sopas untuk anggota Koppas Cokro Kembang dari tahun 2017 belum dibagikan karena kondisi Koppas diketahui sedang tidak kondusif, kredit yang macet dan semangat untuk mengurus koperassi sudah menurun karena beberapa faktor yang sudah disampaikan. Dan mungkin karena faktor pengelola Pasar Cokro Kembang yang sudah ganti pula jadi mempengaruhi kinerja Koppas. Karena dirasa cukup Saudara zakki selaku ketua Sopas tahun 2018 mengajak anggota untuk menemui Mbak Jeki. Ketika menuju tempat Mbak Jeki para anggota Sopas juga melihat banyak perubahan yang sudah terjadi di Pasar Cokro Kembang, diantaranya tempat yang dulunya tidak boleh untuk dijadikan lapak berjualan karena ditanami pohon sekarangpun sudah menjadi lapak-lapak kecil, dan teringat dengan kata-kata Mbak Hani bahwa setelah pergantian pengelola Pasar Cokro Kembang memang sedikit bergeser ke arah “Semrawut”. Sampailah ketika Tim menemui Mbak Jeki, Saudara zakki dan Mbak Jeki memang perpaduan kata yang hampir sama tapi beda pengucapan.  Dari hasil obrolan dengan Mbak Jeki, lagi-lagi anggota Sopas mendapatkan keluhan yakni, kredit macet mencapai Rp 2.000.000,00 Mbak Jeki juga mengungkapkan bahwa anggota koperasi sekarang berjumlah sekitar 68 orang , rencana RAT koperasi dibulan maret,SHU per-anggota Koppas sekitar Rp. 700.000,00 , adanya permintaan dari anggota untuk dibagikan separuh dari uang yang ada, dan yang lain minta untuk dibagikan semuanya. Akan tetapi jika semua diabil, maka modal Koppas tidak ada. Dari beberapa Srawung yang telah dilakukan bersama penjual dan anggota Koppas Cokrokembang, saudara Zakki menyimpulkan bahwa Koppas Cokro Kembang perlu didampingi secara intensif agar kondusinya menjadi kondusif.

Minggu Legi, 10 Februari 2019

Ridwan Wahyu Cahyono