Ekonomi Kerakyatan Berbasis Aset Lokal: Kasus di Pasar Ibuh, Kota Payakumbuh, dan Pasar Pakan Ahad Nagari Koto Baru, Kab. Agam

Ekonomi Kerakyatan Berbasis Aset Lokal:

Kasus di Pasar Ibuh, Kota Payakumbuh, dan Pasar Pakan Ahad Nagari Koto Baru, Kab. Agam

Oleh: Nasrudin Muzakki[1]

IMG-20190211-WA0003

 Pasar tradisional sudah saatnya menjadi barometer perekonomian Indonesia, hal ini dilandasi karena posisinya yang sangat strategis. Pasar tradisional menjadi tempat bertemunya pedagang dengan konsumen tanpa membedakan status sosial. Bahkan kelas masyarakat yang secara status sosial tinggi dengan suka hati belanja di pasar tradisional. Bertegur sapa, tawar-menawar, dan berinteraksi langsung jamak terjadi.

Pasar tradisional mempunyai peran penting untuk menjual produk-produk ekonomi rakyat dari para nelayan, petani, dan pengrajin. Selain itu pasar juga menampung lapangan kerjabagi para juru parkir, tukang ojek, buruh gendong, pedang keliling dengan “garendong” (sebutan pedagang keliling di Payakumbuh yang menjualnya daganganya dengan berkeliling memakai sepeda motor), dan semua orang yang mencari rezeki dari pasar tradisional.

Kini, pasar tradisional berhadapan langsung dengan tantangan global. Sistem ekonomi neoliberal telah merasuk hingga ke tulang sendi perekonomian rakyat ini. Sistem ekonomi tersebut membuat pasar tradisional mengalami penurunan karena tidak mampu bersaing dengan ritel-ritel modern.

Sistem neoliberalisme yang mengerikan itu patah di Sumatra Barat, hal ini dapat dilihat dari kekuatan yang dimiliki pasar tradisional atau pasar rakyatnya. Kekuatan pasar tradisional berasal dari kearifan lokal atau aset lokal yang dimilikinya. Kekuatan itu terbukti dari hasil pengamatan saya di Sumatra Barat bersama dengan Tim Peneliti Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM dari tanggal 17 – 22 Agustus 2018.

Pertama, dari kekuatan Sumber Daya Manusia (SDM). Masyarakat Sumatra Barat suka berdagang dengan prinsip jujur dan memberikan service terbaik kepada pembeli. Contohnya: barang yang dijual bagus, bilang bagus begitupun kalau tidak bagus (menjaga kualitas barang) dan memberikan service terbaik dengan mengantarkan barang belanja sampai ke tempat parkir. Kekuatan SDM lain yaitu sudah adanya titik-titik papan informasi di pasar berupa lcd monitor dan siaran radio untuk memberikan edukasi kepada pedagang supaya dapat mengontrol harga jual komuditi di pasar.

Kedua, kekuatan modal finansial. Material/modal berasal dari pinjaman uang ke saudara, koperasi atau bank. Peminjaman uang di bank cukup mudah 1-3 hari langsung bisa cair setelah syarat terpenuhi. Dalam komunitas pedagang juga ada yang namaya “julo-julo” semacam arisan, hasil dari arisan tersebut untuk modal dagang. Produk atau komoditi dagang dari produk lokal seperti sayur, ikan, daging semua dalam keadaan segar. Selain itu hasil olahan bumi atau buatan industri rakyat contohnya grosir kain dari daerah Bukit Tinggi. Modal finansila lainnya yaitu properti atau insfastruktur pasar yang  sudah memadai berupa bangunan pasar, tempat parkir, dan sarana prasana penunjang untuk pedang.

Ketiga, kekuatan kelembagaan. Kekuatan ini berupa musyawarah pasar yang diselenggarakan secara rutin. Musyawarah dijadikan cara pengambilan keputusan untuk menyelesaikan segala  permasalahan. Contohnya pada salah satu Pasar Nagari yaitu Pasar Pakan Akad Koto Baru Kecamatan Baso, dalam menentukan pengurus pasar melalui musyawarah nagari (musnas). Nilai kearifan lokal sangat mempengaruhi interaksi dan relasi di pasar, jika ada masalah besar akan selesai melalui musyawarah dengan ninik mamak. Selain itu juga telah terbentuk jaringan/kemitraan antar pedang, contoh: salah satu pedang belanja sayur di daerah lain lalu membagikan ke pada penjual lain di Pasar Tradisional Ibuh secara grosiran/eceran. Harga jualnya kepada konsumen sama dengan pedagang lain meskipun dia seorang agen sayur, mereka tidak mempunyai “iri dengki” adanya persaingan dagang.

IMG-20190211-WA0005

Jika dilihat dari sudut pandang teori koperasi, dimana model pengelolaan berbasis ekonomi kerakyatan yang memiliki substansi “produksi oleh semua”, “produksi untuk semua”, dan “produksi di bawah pimpinan atau kepemilikan anggota”. Prinsip demokrasi ekonomi ini akan berjalan jika semua aktivitas ekonomi disatukan dalam organisasi koperasi sebagai badan usaha yang sesuai dengan asas kekeluargaan.[2] Substansi koperasi dalam bentuk kecil telah dilakukan oleh pedagang, sebagai contoh seorang pedang membeli sayur di tempat lain dan dibagi-bagikan kepada pedang di Pasar Tradisional Ibuh Payakumbuh. Disinilah telah terbentuknya efisiensi pembelian bersama, efisiensi ini muncul karena adanya kerjasama kompak antar pedang yang didasari oleh asas kekeluarga di Pasar Tradisional Ibuh.

Dari tiga dimensis tersebut mempunyai kekuatan besar dalam menggerakkan ekonomi masyarakat Sumatra Barat. Kekuatan yang dimiliki dalam pasar tradisional di Sumatra Barat para pedang di pasar tradisional dapat mengotrol dan mengelola pasar secara mandiri contohnya di Pasar Pakan Ahad Nagari Koto Baru Kecamatan Baso untuk renovasi atau pemeliharaan bangunan pasar dan gaji pengelola pasar bersumber dari pendapat pasar. Sedangkan di Kota Payakumbuh yang letaknya startegis berada dijalur lalu lintas dari Padang ke Bukittinggi atau Pekan Baru ke Bukit Tinggi. Lokasi yang strategis ini direspon masyarakat Payakumbuh dengan berdagang. Proses dagang di Payakumbuh tidak mengenal istirahat, jam berapapun kita keluar rumah untuk membeli makan dengan mudah akan menemukannya di kota ini.

Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kearifan lokal atau aset lokal yang dimiliki menjadi kekuatan utama dalam membangun ekonomi kerakyatan dan dapat mematahkan sistem neoliberalisme yang telah menyerang di negara ini. Dari kekuatan aset lokal yang dimiliki oleh pasar tradisional di Sumatra Barat, seharusnya dapat diaplikasikan di pasar tradisional lain yang ada di Indonesia.


[1] Ketua Umum Sekolah Pasar – Mubyarto Institute

[2] Tim Sekolah Pasar Rakyat, “Sekolah Pasar Rakyat: Dari Pasar Rakyat Merebut Kedaulatan”, (Yogyakarta: Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM, 2012), hlm.1.