Category Archives: Artikel dan Opini

Membatasi Ritel Modern?

Oleh Awan Santosa

Mengapa “ritel modern” harus dibatasi? Demikian pertanyaan yang sering disampaikan, justru oleh pemangku kebijakan, terutama di saat sedang menyusun peraturan. Sepertihalnya beberapa Kabupaten di DIY yang saat ini sedang menyusun Raperda “Penataan Pasar Tradisional dan Pasar Modern”, mudah-mudahan tulisan berisi 3 (tiga) pokok alasan ini dapat memberikan jawaban.

Koperasi Pasar Kranggan Memanggil!

Oleh Istianto Ari Wibowo

Dalam pasal 33 tercantum dasar demokrasi ekonomi, produksi dikerjakan oleh semua, untuk semua dibawah pimpinan atau penilikan anggota-anggota masyarakat. Kemakmuran masyarakatlah yang diutamakan, bukan kemakmuran orang-seorang. Sebab itu perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan. Bangun perusahaan yang sesuai dengan itu ialah koperasi. (Paragraf I Penjelasan Pasal 33 UUD 1945)

Guru, Pahlawan yang Terlupakan

Oleh Erika Fauzia

Tak salah bila kita menyebutkan guru sebagai pahlawan.Sejak kecil sering kali kita mendengar ungkapan guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Ungkapan ini rasanya terlalu dihayati sehingga kita benarbenar tidak memberikan tanda terima kasih.

Pasar Tradisional dan Bangsa Besar

Khittah Pasar Tradisional

Pasar adalah tempat “syi’ar”, bersuara, atau berkumandang. Lazimnya tentu diutamakan apa isi pesan atau suaranya, meski tidak boleh pula mengabaikan siapa dan bagaimana menyampaikannya. Begitulah pasar tradisional pun diibaratkan. Seperti apa isi pasarnya adalah sepenting siapa pelaku di dalamnya dan bagaimana bangunannya diperlihatkan.

Krangganku sayang, Krangganku Hilang

oleh Junaedi Ghazali

Sudah 2 minggu lebih di lantai 2 Pasar Kranggan terjadi perubahan. Kios yang selama ini sepi dari aktivitas mendadak ramai oleh gempuran palu dan juga penuh oleh tumpukan bahan bangunan. Rolling door dan jendela-jendela kecil yang ada di masing-masing kios dibongkar. Aktivitas ini berlangsung mulai sejak pagi sampai sore hari. Setelah itu sunyi kembali menyelimuti Kranggan.