Catatan Sekolah Pasar Cokro Kembang: UBAH HARI PASARAN JADI HARIAN

Pasar Cokro Kembang

Oleh : Puthut Indroyono

Hari-hari ini rencana mengubah layanan pasar Cokrokembang menjadi pasar harian (buka setiap hari) menjadi bahan diskusi penting. Di satu pihak pengelola pasar merasa perlu mendorong kebijakan itu untuk meningkatkan peranan pasar percontohan, namun di lain pihak ada beberapa kendala diungkapkan oleh para pedagang jika harus membuka lapak/kiosnya setiap hari. Karena pada kenyataannya sudah ada upaya para pedagang membuka pasar Cokrokembang di luar kebiasaan hari pasarannya, tidak juga diimbangi oleh ramainya pembeli yang datang.

Pasar Cokrokembang di kecamatan Tulung, kabupaten Klaten yang baru diresmikan Menteri Perdagangan Januari lalu, kini seolah-olah mengemban beban berat mengubah orientasi hari pasaran menjadi harus buka setiap hari. Bangunan baru dengan fasilitas yang relative lengkap untuk sebuah pasar desa, dianggap cukup memadai untuk mengubah orientasi pasar yang secara tradisional buka pada hari-hari tertentu, menjadi “harus” buka setiap hari. Investasi milyaran rupiah yang telah dikeluarkan pemerintah perlu dimanfaatkan secara maksimal pemanfaatannya, sehingga tingkat pengembalian modalnya dapat lebih cepat.

Dulu pasar desa ini buka setiap hari pon dan legi sesuai dengan hari penanggalan Jawa. Dalam siklus penanggalan lima hari tersebut (legi, pahing, pon, wage, kliwon), hanya dua hari yang dipakai sebagai hari bertemunya penjual dan pembeli. Pada dua hari itu, pasar Cokrokembang benar-benar ramai dikunjungi pedagang dan pembeli untuk melakukan transaksi jual-beli. Tidak kurang dari 500 pedagang dari penduduk sekitar yang berjualan pada hari itu, baik mereka yang telah memiliki los dan kios di pasar, maupun mereka yang hanya menempati petak-petak (klemprakan) beberapa meter persegi sesuai kebutuhan untuk meletakkan dagangannya.

Ini berbeda dibanding pada hari biasa. Pasar yang kini mendapat predikat “pasar terbersih” ini hanya terisi tidak lebih dari 100 pedagang, dan pembelinya juga tidak seramai ketika hari pon dan legi. Pada saat hari “sepi”, pemasukan retribusi juga tidak sebanyak hari pasaran. Jika pada hari pasaran retribusi yang masuk bisa mencapai Rp 400 ribu per-hari, maka pada hari-hari biasa pemasukannya jauh lebih kecil dari itu. Padahal target retribusi yang ditetapkan pasca pembangunan sebesar Rp 60 juta per-tahun, atau Rp 5 juta per bulan, atau Rp 167 ribu per hari. Jika dalam sebulan ada 12 hari pasaran, maka pendapatan retribusi Rp 400 ribu/hari sebenarnya telah hampir memenuhi target yang ditetapkan.

Mengubah orientasi hari pasaran (legi dan pon) menjadi harian memang boleh saja dilakukan. Namun perubahan itu harus diarahkan untuk menjawab permasalahan menyangkut program revitalisasi pasar yang lebih mendasar. Ia harus merupakan bagian dari strategi dan karena itu perlu disusun secara hati-hati, penuh perhitungan, dan perlu dijabarkan pada langkah-langkah secara terencana dan terpadu.

Kendala punya outlet di beberapa pasar

Salah satu “kendala” pedagang Cokrokembang untuk membuka lapak/kios/los mereka setiap hari adalah karena mereka harus buka di beberapa tempat sekaligus. Meski belum ada angka yang pasti berapa persentase mereka yang memiliki los/kios/lapak di beberapa pasar tersebut, namun banyak pedagang yang menyampaikan alasan itu sebagai kendala untuk target harus buka tiap hari di Cokrokembang.

Terdapat beberapa pasar lain di sekitar tak jauh dari tempat pasar Cokrokembang berada, yakni pasar Ponggok, pasar Dukuh, dan pasar Gringging. Pasar Ponggok yang lebih kecil dari Cokrokembang buka setiap hari, sama seperti pasar Gringging, sedangkan pasar Dukuh ramai pada setiap Pahing, Wage, dan Kliwon.

Pasar Ponggok/Gringging/Tulung (?) yang buka tiap hari memang jumlah pedagangnya lebih kecil ketimbang Cokrokembang, namun setiap harinya didatangi pedagang-pedagang dari tempat-tempat lain dengan skala dagangan yang jauh lebih besar. Banyak truk-truk pengangkut yang beroperasi menjajakan dagangannya untuk dijual secara grosir (jual-beli antar pedagang), sebelum kemudian didistribusikan secara retail ke pasar-pasar lain. Adapula pedagang keliling yang juga melakukan kulakan sayur-mayur di pasar itu.

Pasar “lanang”

Ada istilah pasar “lanang” (baca: laki-laki) dikemukakan oleh seorang pedagang kios (Ibu Tri), untuk menggambarkan kesibukan pasar Cokrokembang yang lebih ramai di hari pasaran legi. Pada setiap hari itu, banyak pedagang (puluhan/ratusan) berjenis kelamin laki-laki yang berdatangan untuk menjajakan dagangan “khusus” seperti ternak (kambing, burung, ayam, dll). Mungkin tidak hanya jenis ternak saja yang dijajakan pada hari itu, tetapi juga jenis produk desa lain seperti kerajinan, alat pertanian, bibit tanaman, dll.

Pendek kata, di hari itu persentasi laki-laki jualan jauh lebih besar ketimbang hari pasaran pon, maupun di hari-hari biasa lainnya. Belum ada angka yang pasti terkait phenomenon ini, namun orientasi mengubah hari pasaran menjadi harian tentu sangat dipengeruhi oleh para pedagang jenis ini.

Penutup

Mengubah “kebiasaan” berdagang dari hari pasaran legi dan pon, menjadi “harian” memang tidak mudah. Banyak faktor-faktor yang mempengaruhi dan sangat menentukan keberhasilan pasar Cokrokembang dalam mengambil kebijakan ini.