Bedah Buku Sekolah Pasar Rakyat

Buku SoPas - Sampul Depan

Bedah Buku Sekolah Pasar Rakyat:
Dari Pasar Rakyat Merebut Kedaulatan

ditulis oleh Junaedi Ghazali

Jum’at pagi, 19 April 2013 ada yang berbeda di Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta. Hari itu, PASTHY digrudug oleh orang-orang yang mencintai pasar rakyat. Berbagai pihak mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi, LSM, koperasi pasar, pedagang pasar, dan media hadir untuk berdiskusi tentang pasar rakyat. Antusiasme yang ditunjukkan memberi tanda bahwa pasar rakyat tak akan begitu saja menyerah menghadapi berbagai permasalahan.

Acara dibuka oleh Mas Hasto Siswanto (Relawan Sekolah Pasar Rakyat) yang seperti biasa selalu tampil penuh semangat. Hadir sebagai pemateri dalam bedah buku ini adalah

  1. Mas Awan Santosa (Penanggung Jawab Program Sekolah Pasar Rakyat periode 2011 – 2013, Peneliti di Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM, dan Dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Mercu Buana Yogyakarta)
  2. Mas Hempry Suyatna (Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM dan Staf Ahli Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM)
  3. Perwakilan dari Kementrian Perdagangan RI

Diskusi berjalan dengan penuh semangat dipandu oleh Mas Advis Vijay Naire (Relawan Sekolah Pasar Rakyat)

IMG_8672

Acara ini menjadi istimewa dengan hadirnya puluhan pedagang dari pasar yang selama setahun terakhir menjalankan Sekolah Pasar yakni Pasar Kranggan Yogyakarta, Pasar Cokrokembang Klaten, dan Pasar Grabag Purworejo. Acara semakin meriah dengan adanya performance dari Unit Kegiatan Mahasiswa UGM Perisai Diri, rekan-rekan dari Mbak Mira Ayu Aisyah (Relawan Sekolah Pasar Rakyat).

Secara simbolis, dibagikan buku oleh Pak Puthut Indroyono (Penanggung jawab Program Sekolah Pasar Rakyat 2013 – 2016) kepada relawan Sekolah Pasar Rakyat (diwakili oleh Mas Fajar Prasetyo Adi dan Mbak Rindu Sanubari Mashita Firdaus), pedagang Pasar Kranggan (diwakili oleh Pak Rajendra), pedagang Pasar Cokrokembang (diwakili oleh Mbak Sri Rejeki), dan pedagang Pasar Grabag (diwakili Pak Supangat).

DSC09675

Seusai acara, tak lupa kami berfoto-foto ria :) bersama seluruh relawan yang telah bekerja bersama menyiapkan acara. Terima kasih, teman-teman.. ;)

IMG_8738

Berikut adalah press release acara bedah buku

Press Release

Bedah Buku Sekolah Pasar Rakyat: Dari Pasar Rakyat Merebut Kedaulatan

Pasar rakyat (pasar tradisional) memiliki posisi sangat strategis karena menjadi wahana penting bagi penjualan produk-produk berskala ekonomi rakyat. Pasar rakyat menjadi tumpuan bagi petani, nelayan, perajin, dan lain-lain, sekaligus juga tempat bagi konsumen untuk dapat berinteraksi di pasar, melakukan transaksi dengan cara tawar menawar. Selain itu pasar rakyat dalam keseharian menjadi indikator stabilitas pangan seperti beras, gula, dan barang-barang sembako lainnya.

Saat ini pasar tradisional menghadapi tantangan berat dengan kian masifnya penetrasi dan eskpansi pusat perbelanjaan dan toko modern. Globalisasi dan liberalisasi perdagangan yang makin intensif sejak lebih dari satu dekade telah makin memperpuruk peranan pasar rakyat dalam perekonomian. Pangsa pasar berangsur-angsur mengalami penurunan karena tidak mampu bersaing dengan ekspansi ritel modern. Data dari survey AC Nielsen menunjukkan bahwa pangsa pasar ritel modern meningkat dari 35% pada tahun 2000 menjadi sebesar 53% pada tahun 2008. Sementara omset ritel tradisional justru menurun dari sebesar 65% pada tahun 2000 menjadi hanya sebesar 47% pada tahun 2008.

Buku tentang “Sekolah Pasar” ini menawarkan alternative solusi bagi terwujudnya sistem perekonomian yang demokratis di lingkungan pasar rakyat. Demokratisasi ekonomi harus dilakukan untuk menjawab tantangan dan ancaman pada perekonomian Indonesia sebagaimana dicita-citakan para pendiri bangsa. Konsep Sekolah Pasar antara lain terinspirasi dari hasil kajian bersama Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM dan Lembaga Ombudsman Swasta DIY dengan mengambil contoh kasus di 15 pasar di DIY pada 2011.

Sebagai model terobosan baru dalam mengembangkan pasar rakyat, gagasan Sekolah Pasar menawarkan pendekatan berbasis manusia dan kelembagaan (human capital and social capital). Melalui ujicoba (pilot project) di pasar Kranggan, Yogyakarta, upaya ini banyak mendapatkan dukungan positif berbagai kalangan mulai dari pedagang, paguyuban, pengelola pasar, pemerintah daerah, maupun para akademisi dan masyarakat luas.

Terobosan penting lain yang ingin dikedepankan adalah pelibatan Perguruan Tinggi untuk “membelokkan arah” aliran ilmu pengetahuan dan teknologi secara sistematis kepada sektor-sektor perekonomian rakyat. Pelibatan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu, baik dari UGM maupun beberapa perguruan tinggi di Yogyakarta, diharapkan menjadi model pengembangan pasar rakyat ke depan antara lain melalui program KKN atau pendampingan.

Selain menjelaskan tentang latar belakang dan pemikiran ideologis dan praksis, buku ini juga mengurai panjang lebar tentang upaya pengembangan modal manusia pedagang. Uraian dan dinamika proses Sekolah Pasar selama satu tahun terakhir di 3 pasar, pasar Kranggan di kota Yogyakarta, pasar Cokrokembang di kabupaten Klaten, dan pasar Grabag di kabupaten Purworejo, ditampilkan beserta ilustrasi gambar. Pada dua pasar terakhir, kegiatan ini mendapat dukungan dana dari Kementerian Perdagangan.

Melalui peluncuran dan diskusi buku “Sekolah Pasar: Dari Pasar Rakyat Merebut Kedaulatan”, segenap pencetus dan pegiat Sekolah Pasar, ingin mengajak seluruh masyarakat untuk mengembalikan kejayaan pasar rakyat. Pasar rakyat merupakan tempat berjuang dan berkreasi pelaku ekonomi rakyat bermodal kecil, pemasar produk desa buatan industri rakyat, dan retribusinya yang bahkan sanggup menggaji aparat pemerintah. Pasar rakyat adalah wujud dari “ekonomi kekeluargaan” cita-cita para pendiri bangsa, yang menjadi tempat usahanya pelaku ekonomi rakyat yang bermoral dan bermartabat.

Demikian, Sekolah Pasar berjuang mengubah Indonesia dari pasar. Indonesia yang pasar rakyatnya mandiri dan berkoperasi. Indonesia yang ke depannya tidak lagi sekedar menjadi pasar bagi pihak luar, melainkan Indonesia yang mampu menjadi tuan di pasar-pasar di negerinya sendiri.

Junaedi Ghazali
Koordinator Acara