Satu Tahun Sekolah Pasar Rakyat di Pasar Cokrokembang Klaten dan Pasar Grabag Purworejo

LOGO SPR 1 fix - Copy

Satu Tahun Sekolah Pasar Rakyat
di Pasar Cokrokembang Klaten dan Pasar Grabag Purworejo

Tak terasa telah satu tahun Sekolah Pasar Rakyat melakukan pendampingan di Pasar Cokrokembang Klaten dan Pasar Grabag Purworejo. Kini kami akan memaparkan perjalanan setahun Sekolah Pasar Rakyat di dua pasar tersebut. Cerita perjalanan ini sekaligus menjadi media pertanggungjawaban dari Sekolah Pasar Rakyat kepada pihak-pihak yang selama ini telah memberikan dukungan. Selamat membaca.

Mei 2012, Sekolah Pasar Rakyat diundang oleh Dr. Bayu Krisnamurthi (Wakil Menteri Perdagangan RI) untuk memaparkan program Sekolah Pasar Rakyat. Undangan tersebut dikirim setelah Kementrian Perdagangan mendengar tentang pelaksanaan Sekolah Pasar Rakyat di Pasar Kranggan yang telah berjalan beberapa bulan. Dari pemaparan ini, Sekolah Pasar Rakyat mendapat amanat untuk membuka Sekolah Pasar Rakyat di dua pasar yakni Pasar Cokrokembang di Kabupaten Klaten dan Pasar Grabag di Kabupaten Purworejo yang keduanya berada di Propinsi Jawa Tengah.

Periode I Sekolah Pasar Rakyat di Pasar Cokrokembang dan Pasar Grabag berlangsung selama 6 (bulan) yang dimulai pada bulan Juli dan berakhir pada bulan Desember.

Juli 2012 dilakukan assessment. Hasil dari assessment ini adalah kurikulum dan pengurus Sekolah Pasar Rakyat di masing-masing pasar. Kurikulum terbagi menjadi dua yakni materi umum (materi yang selalu ada di setiap pasar) dan materi khusus (materi yang didasarkan pada kebutuhan di masing-masing pasar). Pengurus Sekolah Pasar Rakyat berasal dari pedagang pasar yang akan berperan penting dalam pelaksanaan Sekolah Pasar Rakyat.

September 2012 dilakukan pembukaan Sekolah Pasar Rakyat di kedua pasar tersebut. Pelaksanaan Sekolah Pasar Rakyat di masing-masing pasar meliputi 8 pertemuan kelas dan 5 pertemuan klinik serta beberapa kali pertemuan yang bersifat informal. Terdapat perbedaan gaya pendekatan dan materi kurikulum Sekolah Pasar Rakyat di kedua pasar tersebut. Perbedaan ini muncul karena perbedaan kondisi dan kebutuhan dari masing-masing pasar. Kurikulum di Pasar Cokrokembang kemudian lebih didominasi oleh materi yang bersifat kelembagaan yakni koperasi. Sedangkan kurikulum di Pasar Grabag didominasi dengan materi yang bersifat individual seperti teknik berdagang.

Dalam perjalanan, dilaksanakan juga kunjungan silaturahmi dari pedagang peserta Sekolah Pasar Rakyat. Pedagang Pasar Cokrokembang dan Pasar Grabag saling melakukan kunjungan balasan untuk mengetahui kondisi rekan-rekan sesama pedagang dan berbagi pengalaman. Kunjungan juga dilakukan ke Pasar Kranggan Yogyakarta dan Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM tempat Sekolah Pasar Rakyat bernaung.

Desember 2012 dilakukan penutupan Periode I Sekolah Pasar Rakyat di Pasar Cokrokembang dan Pasar Grabag. Pada penutupan ini lagi-lagi para pedagang di kedua pasar saling berkunjung untuk saling mendukung dan mempererat silaturahmi. Kelak, pada bulan April 2013 para pedagang dari Pasar Kranggan, Pasar Cokrokembang, dan Pasar Grabag bertemu kembali dalam acara bedah buku Sekolah Pasar Rakyat.

Untuk melaksanakan Sekolah Pasar Rakyat di Pasar Cokrokembang dan Pasar Grabag dibentuk satu tim khusus. Koordinator umum adalah Awan Santosa (Penanggungjawab Sekolah Pasar Periode 2011 – 2013). Koordinator lapangan adalah Istianto Ari Wibowo (koordinator Divisi Pendidikan Sekolah Pasar). Tim Sekolah Pasar Cokrokembang adalah Drs. Puthut Indroyono, Mega Aisyah Nirmala, Fajar Prasetyo Adi Chandra, Junaedi Ghazali, Heryawan Pambudhi, Abidah Mahjati, Abdul Aziz Adi Putra, dan Wiwin Darmiyati. Tim Sekolah Pasar Grabag adalah Khilda Maulidiah, Lily Retno Anggraini, Pusoko Nur Seto, Advis Vijay Naire, Luthfirahman, Muhammad Farkhan Novianto, Dyah Sekar Sri Panuluh, dan Ariyanto.

Selamat dan terima kasih untuk kawan-kawan.

Januari 2013. Mulai bulan ini dilakukan perubahan tim dengan cara menggabungkan tim yang terbentuk untuk ditempatkan dibawah koordinasi langsung dari Divisi Pendidikan. Perubahan ini disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, sebagai media pendidikan bagi seluruh relawan Sekolah Pasar Rakyat khususnya Divisi Pendidikan. Kedua, berakhirnya “kontrak” dengan pihak Kementrian Perdagangan. Dengan berakhirnya kontrak tersebut maka dukungan pendanaan dengan sendirinya juga berakhir. Namun, Sekolah Pasar Rakyat tetap memiliki komitmen untuk terus melakukan pendampingan di kedua pasar tersebut meski tak ada lagi dukungan pendanaan. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang berbeda sehingga Sekolah Pasar Rakyat di Pasar Cokrokembang dan Pasar Grabag tetap bisa berjalan.

Pada masa transisi ini Sekolah Pasar Rakyat melaksanakan agenda di dua pasar dengan tujuan utama penguatan kelembagaan Sekolah Pasar Rakyat di pasar. Diskusi dan obrolan dengan pedagang yang telah menjadi pengurus Sekolah Pasar dilakukan dengan intensif selama dua bulan. Diskusi intensif ini mengerucut ke arah pembentukan koperasi pasar. Perlu diketahui bahwa Pasar Cokrokembang dan Pasar Grabag belum memiliki koperasi.

Maret 2013. Sejak bulan ini, pelaksanaan Sekolah Pasar Rakyat di Pasar Cokrokembang dan Pasar Grabag berada dibawah tanggung jawab penuh Divisi Pendidikan untuk meneruskan upaya-upaya yang telah dilakukan sebelumnya. Meski demikian, rekan-rekan yang sebelumnya tergabung dalam tim tetap memberikan dukungan.

Abidah Mahjati, Abdul Aziz Adi Putra, Ariyanto, Fajar Prasetyo Adi Chandra, Fajria Hidayatun Marfuah, Istianto Ari Wibowo, Kharis Hardiyanto, Khilda Maulidiah, Lily Retno Anggraini, Nofi Rofiana Sinta Dewi, dan Rindu Sanubari Mashita Firdaus.

Itulah nama-nama makhluk yang secara rutin turun ke pasar.

Pada bulan ini juga Koperasi Pasar Cokrokembang diluncurkan dan dibuka untuk seluruh pedagang pada hari Jum’at Pon tanggal 15 Maret. Pada pertemuan pertama koperasi telah tercatat 55 orang pedagang yang menjadi anggota. Pada perkembangannya, Koperasi Pasar Cokrokembang diusulkan bernama Koperasi Maju Lancar.

Juni 2013. Hari Kamis Kliwon tanggal 20 Juni, pedagang Pasar Grabag mendeklarasikan berdirinya Koperasi Pasar Grabag yang diberi nama Koperasi Pasar Sida Rukun.

Memang koperasi di kedua pasar tersebut belum sepenuhnya berbentuk koperasi. Dalam logika perundangan yang ada, dua koperasi tersebut masih dalam bentuk pra koperasi. Tapi tak mengapa. Kami juga tidak “ambisius” untuk mencapai bentuk formal. Sekolah Pasar Rakyat berusaha mengembangkan koperasi pasar dari bawah. Bersumber dari semangat dan kebersamaan para pedagang pasar. Oleh karena itulah, untuk mencapai pembentukan koperasi pasar juga dibutuhkan waktu berbulan-bulan. Semua itu dilakukan agar koperasi pasar mampu menjadi wahana diskusi sekaligus upaya memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh pedagang. Proses panjang tersebut harus dilalui agar koperasi pasar benar-benar menjadi milik pedagang.

Perlahan-lahan peran besar Sekolah Pasar Rakyat di dua pasar mulai digantikan oleh pedagang. Kini, para pedagang di Pasar Cokrokembang dan Pasar Grabag memiliki agenda rutin yakni, pertemuan bulanan koperasi pasar. Dalam pertemuan inilah dibicarakan segala hal. Curhat, obrolan ringan, canda tawa, keluh kesah, dan laporan perkembangan koperasi menghiasi pertemuan rutin bulanan.

Setiap kali pulang dari Pasar Cokrokembang dan Pasar Grabag tak pernah ketinggalan buah tangan yang selalu dipaksakan oleh pedagang untuk kami terima. Bertemu, ngobrol, bercanda, dan ditraktir oleh pedagang. Apalagi yang kurang :p

Itulah gambaran ringkas setahun perjalanan Sekolah Pasar Rakyat di Pasar Cokrokembang dan Pasar Grabag meski sesungguhnya kondisi di lapangan tak semulus yang dipaparkan. Kami menyadari bahwa masih banyak lubang kekurangan. Kami mengharapkan saran dan kritik untuk mengisi lubang-lubang itu agar pelaksanaan Sekolah Pasar Rakyat menjadi lebih baik.

Teriring salam dan terima kasih untuk Kementrian Perdagangan RI, Dr. Bayu Krisnamurthi, pedagang dan pengelola pasar di Pasar Cokrokembang dan Pasar Grabag, seluruh pihak yang telah memberikan dukungan serta tentunya seluruh relawan Sekolah Pasar Rakyat.

Istianto Ari Wibowo, SE
(Ketua Divisi Pendidikan Sekolah Pasar Rakyat)